Definisi “le tourisme culturel” atawa Wisata Budaya

Wisata budaya merupakan suatu ekspresi yang lazim dipakai pada suatu ekstrapolasi fenomena lebih global katimbang dengan yang sering kita jumpai pada situs-situs budaya. Wisata budaya sesungguhnya adalah suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh sejumlah orang yang menginap barang semalam jauh dari rumah mereka, untuk tujuan mengenali budaya-budaya lain. Pada arti inilah klasifikasi wisata budaya dapat dimadahkan, sementara kaum profesional justru menghendaki wisatawan yang sedang melakukan perjalanan untuk pelbagai motif, tetapi bersedia berada di ‘nowhere’ atawa ‘ailleur’ untuk menikmati sajian-sajian budaya. Dengan begitu, definisi wisata budaya yang pantas  diusulkan adalah: “suatu tradisi budaya yang membutuhkan perjalanan dan penginapan barang semalam.” Definisi ini dengan sendirinya mengakomodasi keinginan para profesional tadi.

Image
Mahasiswa UGM menjadi motor dalam keikutsertaan karnaval ini
Iklan

kuliner dan pengembangan destinasi (2)

•Sistem makanan dan sistem pengolahannya yang khas dan seni penjajiannya (kepada tamu) merupakan prinsip-prinsip budaya dasar yang mengungkap heritage masyarakat-masyarakat kuna.  Prinsip-prinsip itu juga merupakan pengetahuan yang dibentuk oleh peradaban dan tradisi yang dikembangkan pada kurun zamannya dengan cara-cara progresif.  Perkembangan sosioekonomi, perpindahan Jawa dari maritim ke agraris misal, juga sangat mempengaruhi masyarakat petaninya, perajinnya, pekerjaan-pekerjaan industrialnya dst…
•Jika konsep makanan dan seni kuliner menjadi saksi suatu pengetahuan yang dalam dan saksi ritual yang amat tua di banyak negeri, utamanya di negeri-negeri agraris, mungkin tidak terlihat relevansinya antara kuliner dan destinasi. Apa yang tampak tidak berarti dan menjadi korban ketidakpahaman itu justru dapat menjadi unsur vital bagi pengembangan pariwisata.
•Untuk itu pulalah perlu diajukan sejumlah pertanyaan yang akan meniscayakan suatu kajian prospektif dan komparatif seperti berikut :
•–Posisi seperti apa yang diperoleh warisan budaya kuliner pada skala warisan budaya nasional?
•–Apa yang dilakukan pemerintah, komunitas, daerah,  dan kota untuk memuliakan dan untuk mengidentifikasi budaya kuliner ini?
•–Warisan budaya ini, sering berada di luar politik living culture, akankah menjadi tanggung jawab institusi-institusi, untuk  dilestarikan dan dihindarkan  kepunahannya?
•–Langkah-langkah apakah yang akan ditempuh agar gastronomi Indonesia semakin dikenal dan diakui sebagai warisan kemanusiaan yang menjadi bagian kebudayaan nasional?
•–Bagaimana kita berhasil menciptakan warisan budaya gastronomi dan seni kuliner Indonesia sebagai isyu ekonomi demi tujuan promosi destinasi wisata, meski isyu-isyu dikutip dari warisan budaya, seni, dan kerajian…

festival memedi manuk le festival des epouvantails

Orang-orangan sawah, bukan sekedar budaya lokal, tetapi budaya universal. Jauh sebelum dunia mengenal pertanian yang sistematis seperti sekarang, para petani Mesir kuno di tepi sungai Nil, di ladang gandum mereka, membentangkan tali yang diikatkan pada sepokok kayu untuk mengusir burung-burung. Kemudian pokok kayu itu diberi busana kain untuk mengesankan gerakan manusia saat digerak-gerakkan dengan tali. Di zaman berikutnya, para petani Yunani memasang patung kayu bersenjatakan tongkat dan sabit. Di zaman berikutnya lagi, petani Romawi memasang patung-patung dewa penjaga mereka di ladang, dan manakala panen berhasil para petani Romawi itu memberi sesaji di kaki patung dewa-dewa tadi. Sedangkan petani Jerman, di era-era belakangan, di akhir musim dingin, memasang patung-patung penyihir dari kayu dengan kepercayaan patung-patung itu bisa menahan ruh-ruh musim dingin agar musim semi cepat datang. Di ladang patung penyihir itu bermanfaat sebagai memedi manuk dan petani Jerman menyebutnya Vogelscheuchen. Di Jepang petani memberi nama dewa orang-orangan sawah itu Sohodo-nà-kami. Di musim semi dewa-dewa turun dari gunung untuk melindungi sawah dan Sohodo-nà-kami akan mengusir kawanan burung pengganggu petani.

Hari ini jati diri petani telah  mulai luntur dan ditinggalkan untuk itu perlu gerakan penyadaran bersama dan kepedulian berbagai pihak untuk membangun kembali nilai-nilai kejuangan petani bahkan sebagai warisan bagi generasi mendatang. Maka MUSEUM TANI JAWA INDONESIA bekerja sama dengan beberapa instansi pemerintah dan perguruan tinggi mengadakan  festival memedi manuk.

Festival Sejuta Ekspresi Memedi Manuk ditujukan kepada generasi muda di desa dan di kota, para seniman tradisional dan modern, pecinta fotografi, pecinta seni rupa, pecinta keindahan dan keaslian panorama pedesaan, aktor-aktor pariwisata, aktor-aktor pendidikan nasional, aktor-aktor publik (pejabat daerah dan pejabat nasional),  aktor-aktor pertanian (dari petani hingga peneliti pertanian), dan seluruh lapis masyarakat yang berkepentingan dengan produk-produk pertanian dan produk-produk budaya tani. Festival ini mengaspirasikan suatu titik pertemuan dan pertukaran sudut pandang keprihatinan dan harapan dari ranah ilmiah dan ranah Festival ini tidak berpretensi sebagai suatu keramaian sesaat. Sebaliknya, festival ini bertujuan untuk berkontribusi pada penetasan suatu kultur baru kreativitas budaya yang bertumpu pada nilai-nilai local genius yang memancar dari perkembangan pemuliaan aspirasi-aspirasi kemanusiaan suatu bangsa berbudi luhur dan pemuliaan lingkungan alam dan budaya masyarakat lokal.

Festival ini diformat sebagai sebuah forum pertemuan di sebuah desa di kawasan Imogiri, yang telah dikmaktubkan sebagai Gerbang Budaya Bantul, yang mencoba menggeliat dari keterpurukan dahsyat bencana alam yang sempat meruntuhkan segala harapan dan impian di sebuah kota yang menjadi jantung budaya dunia dan pusat pendidikan bangsa, diniati sebagai upaya penciptaan suatu jaringan komunikasi dan persahabatan antarindividu yang berasal dari pelbagai penjuru Indonesia. Secara gamblang, kegunaan dan manfaat festival terurai dalam tujuh huruf di bawah ini.

a. Membangun kebersamaan dan kerukunan antarpetani dan antarkelompok petani dengan masyarakat.

b. Menghidupkan kreativitas dan inovasi dalam upaya merevitalisasi tradisi tani dan budaya pedesaan.

c. Menggali potensi antarkelompok petani dan mengembangkan budaya tani sebagai basis wisata pedesaan.

d. Merekonstruksi ekologi budaya tani (kanca tani) sebagai pilihan penyambutan budaya global di sebuah dunia modern.

e. Menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya tani dalam rangka mempersiapkan generasi muda untuk terfasilitasi menuju masa depan yang lebih baik.

f. Merevitalisasi dan mendiversivikasi modal sosial-budaya petani sebagai pilihan membangun ketahanan pangan dalam upaya menemukan solusi krisis pangan demi pencapaian swasembada pangan Indonesia.

Adapun bentuk-bentuk kegiatannya meliputi :

a. festival dan lomba ekspresi orang-orangan sawah (memedi manuk) melalui pelbagai media;

b. sarasehan ekologi tani dengan narasumber tokoh-tokoh terkemuka;

c. lomba seni fotografi  dengan tema “ memedi manuk dalam ekspresi”;

d. pentas seni dan tradisi pedesaan..

Waktu dan tempat.

Kegiatan festival ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2008

Hari                  : Sabtu 25 Oktober 2008 “ Pembukaan“

Waktu               : Pk. 13.00 s/d selesai

Pembukaan       : Oleh Kepala Baparda DIY

Tempat  Festival     :

1. Kampung Tani Candran

2. Desa Wisata Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta

3. Areal persawahan disekitarnya.

sugeng rawuh welcome bienvenue

Salam

Kebudayaan di lingkup periferi (pelosok atau udik) yang pluralis dan dinamis itu, terutama seni pertunjukan, musik, tradisi-tradisi yang bernuansakan gaya hidup bersahaja tetapi tidak abai pada aspirasi modernitas, bergerak menempuh jalurnya sendiri, seakan terpisah dari roda kehidupan kota yang hiruk pikuk tetapi berhenti membangun kreativitas budaya modern, tiba-tiba muncul menjadi pilar-pilar utama bangsa untuk menyambut mondialisasi budaya-budaya dinamis dari luar. Kekuatan  dan semangat dari dunia pelosok ini tampak jelas belum menjadi prioritas politik negara.

Salam