Membangun komunikasi antara agrikultur dan pariwisata (5)

•Aglomerasi kota dan desa dengan topik agrikultur  dalam konteks pariwisata memiliki tujuan yang sama: memuaskan pasar.  Kondisi ini dapat didesain melalui rekomendasi-rekomendasi seperti berikut:
•• mencetak pengalaman melalui produk-produk agrikultur eksotis;
•• mentransformasikan dan mencadangkan produk-produk lokal ketika terjadi panen surplus;
•• mengembangkan suatu produk  terintegrasi dan  jaringan pemasaran;
•• mengembangkan produk-produk organik;
•• mengembangkan kapasitas organisasi  produsen lokal untuk memuaskan kebutuhan pasar.
Iklan

Pariwisata dan Kuliner Berkelanjutan (4)

•Pascagempa 27Mei 2006, bagi penduduk Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta, kemiskinan adalah satu-satunya realitas yang mereka kenal. Jika benar bahwa pariwisata merupakan sektor penting bagi pendayagunaan dan tumpuan ekonomi daerah tertinggal, pariwisata memiliki kemungkinkan untuk memberi kontribusi perbaikan tingkat kehidupan, utamanya di daerah-daerah seputar destinasi. Fakta ini memberi arti bagi masyarakat pariwisata memainkan peran perbaikan ekonomi nasional tanpa harus mengurangi keuntungan komersial mereka. Hotel dan agen perjalanan yang terorganisasir berpeluang memperkenalkan, memperoleh suatu tipe pengunjung yang menginginkan liburan dengan kegiatan-kegiatan bervariasi dan memungkinkan pengunjung ini kembali lagi, dengan syarat kegiatan itu memuaskan pengalaman batin pengunjung sehingga terbuka peluang lain berupa terjalinnya hubungan baik dengan komunitas lokal. Efek positif hubungan baik ini bukan saja mendatangkan kebanggan bagi pengunjung saat dirinya tahu bahwa kehadirannya akan membantu perbaikan kualitas kehidupan masyarakat lokal, dan di sisi lain mendukung masyarakat lokal untuk mempromosikan konservasi warisan alamnya dan warisan budayanya, agar bisa menyakinkan produk finalnya kepada pengunjung adalah produk berkelanjutan.

Dari sawah terolah di tampah (3)

•Karena itu penting kiranya untuk memberi tempat layak bagi budaya kuliner ini, yakni di jantung heritage negeri.  Implikasinya jelas: seni kuna ini sepatutnya mendapatkan promosi proporsional. Orang-orang tua harus mengajarkan kepada anak-anak untuk menyantap hidangan lokal dan regional alih-alih menggemari sandwich dan fastfood. Kita harus belajar menikmati daharan nenek moyang, santapan yang diolah dari lingkungan budaya sendiri.
•Gaya hidup kontemporer dan proses globalisasi merapuhkan living cultur yang diwarisi dari tradisi.
•Untuk menghadapi ancaman-ancaman uniformisasi di zaman modern ini ketika peradaban berinterferensi dan ketika seni masakan Indonesia harus menghadapi percobaan-percobaan akulturasi.
•Berbekal semangat untuk melestarikan seni masakan untuk esok hari dan semangat beradaptasi secara progresif seni penyajian masakan dengan konsep-konsep baru.
•Di zaman ketika teknologi dan standarisasi menjadi gaya hidup kontemporer, seni masakan modern cenderung memutuskan hubungan dengan selera. Untuk menyelamatkan sebagian besar warisan seni masakan Indonesia—yang ditransmisikan dari generasi ke generasi dan menjadi tradisi—yang berisiko punah dikarenakan pembaruan-pembaruan dan standarisasi atas nama kepentingan tertentu.
•Dihadapkan pada konteks globalisasi yang ‘merencanakan’ ancaman serius degradasi dan kehancuran warisan budaya dan imaterial, telah melahirkan Konvensi 2003. Kini sudah menjadi keharusan kita setengah terengah-engah  diterpa gaya hidup seni masakan sekular, sambil mencoba tetap mempertahankan seni masakan tradisional.

•Sejak 2003, Unesco memberlakukan sebuah konvensi untuk menyelamatkan warisan budaya imaterial yang didefinisikan sebagai keseluruhan ekspresi budaya dan sosial yang, diwarisi dari tradisi masing-masing, melahirkan komunitas-komunitas.
•Istilah ‘warisan budaya imaterial’ meliputi adat-istiadat, pengetahuan, tradisi-tradisi dan benda-benda penting untuk meyakinkan penyelamatan realisasi budaya seperti yang tercantum pada pasal 2 Konvensi, menyebutkan bahwa semua tadi menjadi penting ketika diakui individu-individu sebagai warisan budaya mereka. Warisan budaya imaterial ini, tersampaikan dari generasi ke generasi, menciptakan secara permanen pada komunitas dan kelompok lingkungan budaya mereka, membentuk semacam perasaan jatidiri akan keberlanjutan kontribusinya untuk memuliakan diversitas budaya dan kreativitas manusia.