FESTIVAL BUDAYA KEDAULATAN PANGAN 2012

FESTIVAL BUDAYA KEDAULATAN PANGAN 2012

Festival ini diselenggarakan oleh Diploma Bahasa Prancis Sekolah Vokasi UGM, Global Culture Institute UGM, Museum Tani Jawa Indonesia dari 8 Desember hingga 18 Desember 2012, sebagi bagian untuk mengangkat kembalihak-hak budaya petani Indonesia.

Iklan

Nini Thowong Kreasi Candran (lanjutan)

Berbeda dengan Nini Thowong lama yang begitu naratif–pertunjukan boneka untuk anak-anak perempuan adalah narasi laki-perempuan–Nini Thowong kreasi Candran murni seutuhnya menjadi kesenian untuk seni pertunjukan. Jika Nini Thowong lama menjaga sungguh-sungguh bahwa media adalah media untuk komunikasi, maka Nini Thowong Candran utuh sebagai komunikasi seni untuk kebutuhan situasi kiwari. Bahwa agar katharsis penonton teraih, maka penari laki-lakilah yang mendapatkan casting kesurupan.. Macam yang dialami Sumaji, pengusaha konstruki yang mendapati Nini Thowong sebagai bagian tenpentiong lembaga kehidupan adalah lembaga tanpa tedengaling-aling…(muslikh)

DUA TRADISI YANG BERBEDA BERTEMU DI LESUNG DAN ALU

Orang timur bersungguh-sungguh meyakini bahwa makan adalah bagian ritual keseharian. Setelah bersantap, baik siang maupun malam, orang timur kerap melepasnya dengan obrolan-obrolan ngalor-ngidul dikawani secangkir kopi atau teh, atau bahkan dikawal oleh televisi. Tetapi, noni-noni asal Rotterdam ini, setelah menenggak sebutir utuh kelapa muda, setelah menyantap nasi gudangan telor asin plus sambel dan ingkung ayam, plus bolak-balik memadati takir mereka, rasa-rasanya jadi tergoda untuk ikut merancak tingkahan gejok lesung yang dimainkan oleh Bu Temu dan kawan-kawan dari wisata desa Candran Imogiri. Seorang nyonya, taruh kata memang dia yang paling dewasa lantaran sudah beranak satu, menyambar mikrofon dan mulai mengaba-abai menyanyikan sepotong lagu rakyat holanda. Gayung bersambut, noni-noni asal Rotterdam itu berbarengan membiki koor…eh-eh satu lagu lewat, lantaran diiringi gejok lesung Bu Temu dkk, masih kurang… Kini ditambah lagi dengan joget lingkaran khas Holanda…hurrraaa huraaaa…(muslikh)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Nini Thowong kreasi Candran

Kesenian rakyat ini, pernah dimainkan sekitar 70 tahun silam di Candran Imogiri. Tetapi, setelah pawang-pawangnya menghilang tanpa pesan, Nini Thowong ini tak pernah dimainkan lagi. Sekitar 4 tahun lalu, tahun 2008, bersama GCI-UGM, mahasiswa KKN, dan masyarakat Candran; kesenian rakyat ini dibangkitkan lagi dengan kreasi yang sama sekali baru. Karena di sana dimainkan topeng Lengger, tingkah gamelan cokekannya mengutip lagu-lagu dolanan yang rancak khas Jawa. Dalam video ini, Nini Thowong berkenan mengisi tayangan Peppy The Xplorer untuk Tans-TV pada tahun 2011….(muslikh)

WARAS DAN TANGGUNG JAWAB

Konon, suatu hari, hutan Wanasaka di kerajaan Sabda Nagari, mengalami kebakaran hebat. Api seakan dijatuhkan dari langit, dimuntahkan dari bumi, dan dikobarkan dari segenap penjuru angin. Semua satwa penghuni hutan, berlarian ketakutan, pontang-panting mencari keselamatan diri. Satwa yang terlanjur gugup, terkencing-kencing dan tak mampu menggerakkan kaki atau sayap, jatuh tertiarap tidak memiliki daya apa pun. Konon pula, hanya satu-satunya satwa yang tidak tergetar oleh kemarahan api yang melalap apa saja itu, dialah burung mungil yang sehari-harinya mencecap sari madu dari putik-putik bunga. Dengan paruhnya yang kecil itu, dia mondar-mandir membawa beberapa tetes air dari sungai, yang nyaris menguap karena udara panas, untuk memadamkan api. Setelah beberapa waktu itu burung madu itu bersusah payah memadamkan api, seekor kadal tak tahan mendamprat :
“Heei, burung pengutil kembang!! Kau kira tetesan air liurmu itu bisa memadamkan api neraka ini?”
“Yaa enggaklah, Tuan Kadal! Aku ‘kan ngga gila! Karena itu, karena kewarasanku ini, aku menunaikan tanggung jawabku di hutan ini…walau aku tahu bakal sia-sia…” (muslikhDSC_0001

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KOMUNIKASI WISATA BUDAYA

Wisata budaya, dari waktu ke waktu, mencoba mendiversifikasi, baik untuk objek-objeknya maupun kiat-kiatnya. Memperlakukan posisi ini sebagai infrastruktur, maka kita memperlakukannya sebagai paragraf penawaran wisata budaya. Tetapi, lantaran posisinya yang nisbi dan bahkan biasa-biasa saja di seluruh kegiatan wisata, namun tidak kurang pula destinasi wisata budaya yang tak bakal tersaingi oleh destinasi manapun. Dalam pautan itu, pertama-tama, wisata budaya memiliki sejarah paling panjang, dia sudah mengakar manakala bentuk-bentuk wisata lainnya baru ingin menancapkan kuku-kukunya. Wisata budaya inilah yang menyampaikan dan mengistimewakan dirinya sebagai destinasi nasional dan urban, dan menyelamatkan keduanya dari terkaman banalisasi dan delokalisasi destinasi-destinasi–Puncak atau Kaliurang. Dilihat dari sudut pandang ini, dari similaritas penawarannya, wisata budaya memiliki daya kompetisi tinggi, dan bahkan mengancam destinasi-destinasi rivalnya. Taruh kata jika wisata budaya tidak memiliki sumber-sumber budaya untuk membedakannya dengan destinasi lain-lainnya, dia akan menggempur agar memiliki fasilitas akses, kualitas layanan, dan dari waktu ke waktu, pencantuman harga yang bersaing. Karena itu, Makam Raja di Imogiri, makam-makam para Wali Sanga, dan sejumlah destinasi kultural urban lainnya, memiliki sudut pandangan seperti itu, yang tak tergantikan…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

POSISI WISATA BUDAYA NUSANTARA DI RANAH PARIWISATA DUNIA

Taruh kata, hingga saat ini, bentuk wisata budaya terkuno adalah ziarah, dan kadang pula disebut tetirah. Jika para ahli Eropa menyebutkan awal pariwisata adalah pada 1860, yakni ketika sejumlah anak muda Inggris berkeliling Eropa untuk belajar hal-hal tertentu. Pun ketika pada 1890 muncul Asosiasi Inisiatif perjalanan di Gerardmer dan Grenoble, sebenarnya wisata budaya belum lagi ada di sana. Tentu, jika kita mengutip kembali perjalanan Purwalelana (nama samaran Bupati Tegal) pada abad ke-19 saat melakukan perjalanan ke seluruh Jawa untuk mencatat tradisi-tradisi kota atau kerajaan yang dia kunjungi. Atau jika mengutip jauh ke masa lalu ketika orang-orang Indonesia (semasih belum bernama Indonesia) berbulan-bulan melakukan perjalanan laut untuk berziarah ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji—atau mereka yang tidak menempuh jalur lautan, tetapi menyeberangi Selat Malaka kemudian menyusuri daratan dan mengikuti jalur sutera untuk sampai ke Arab Saudi. Jadi, semestinya wisata budaya, pemahaman definisi dan profesionalismenya, bisa diangkat dari negeri untaian zamrud ini. Tokh, dokumen, bukti, dan naskah-naskah kuno tidak kurang-kurang tersedia….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Definisi “le tourisme culturel” atawa Wisata Budaya

Wisata budaya merupakan suatu ekspresi yang lazim dipakai pada suatu ekstrapolasi fenomena lebih global katimbang dengan yang sering kita jumpai pada situs-situs budaya. Wisata budaya sesungguhnya adalah suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh sejumlah orang yang menginap barang semalam jauh dari rumah mereka, untuk tujuan mengenali budaya-budaya lain. Pada arti inilah klasifikasi wisata budaya dapat dimadahkan, sementara kaum profesional justru menghendaki wisatawan yang sedang melakukan perjalanan untuk pelbagai motif, tetapi bersedia berada di ‘nowhere’ atawa ‘ailleur’ untuk menikmati sajian-sajian budaya. Dengan begitu, definisi wisata budaya yang pantas  diusulkan adalah: “suatu tradisi budaya yang membutuhkan perjalanan dan penginapan barang semalam.” Definisi ini dengan sendirinya mengakomodasi keinginan para profesional tadi.

Image
Mahasiswa UGM menjadi motor dalam keikutsertaan karnaval ini